Michelle
guerra nathanael
3pa06
14512569
Tugas
Psikoterapi
Universitas
Gunadarma
1. Terapi
Psikoanalisa :
A. KONSEP TERAPI :
Persepsi tentang sifat manusia :
Menurut
Sigmund Freud , perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang
tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu
pada masa enam tahun pertama dalam kehidupan , bahwa sifat manusia pada
dasarnya adalah deterministic.
Struktur kepribadian :
Menurut
pandangan psikoanalitik struktur kepribadian terdiri dari tiga system :
-
Id adalah komponen biologis
-
Ego adalah komponen psikologis
-
Super Ego adalah komponen social.
Kesadaran dan Ketidaksadaran :
Alam
ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal- hal berikut :
(1.) Mimpi yang merupakan pantulan dari kebutuhan ,
keinginan, dan konflik yang terjadi dalam diri
(2.) Salah ucap
(3) sugesti
pasca hipnotik
(4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas
(5) materi
yang berasal dari teknik proyeksi ,serta isi simbolik dari symptom psikotik.
Kecemasan :
Dalam
konsep Freud kecemasan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
- Kecemasan
realita : rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar kecemasan ini
sumbernya adalah ego.
- Kecemasan neurotic : rasa takut yang bersumber
pada id yaitu tidak mampu mengendalikan Instiknya.
- Kecemasan moral : rasa takut terhadap hati
nuraninya sendiri yaitu adanya pertentangan moral sumber kecemasan ini adalah
super ego.
B. UNSUR-UNSUR TERAPI :
-
Muncul gangguan
Terapis
berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari
klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut, kemudian
terapis, memperkuat kondisi psikis dari diri klien, sehingga apabila klien mengalami
gangguan yang serupa, diri klien akan lebih siap menghadapi dan mencari solusi
dengan cepat.
-Tujuan
terapi
Terfokus
kepada upaya penguatan diri klien, agar dikemudian hari apabila klien mengalami
problem yang sama, maka klien akan lebih siap.
-Peran terapis
Membantu
klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam
menangani kecemasan secara realistis, membangun hubungan kerja dengan klien,
dengan banyak mendengar & menafsirkan, terapis memberikan perhatian khusus
pada penolakan-penolakan klien, mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada
cerita klien.
C. TEKNIK TERAPI PSIKOANALISA :
-
Asosiasi
Bebas
Asosiasi
bebas sebagai teknik utama dalam psikoanalisis. Salah satu pasien Freud, menyebut
metode free association sebagai “penyembuhan dengan bicara”. Maksudnya suatu
metode terapi yang dirancang untuk memberikan kebebasan secara total kepada
pasien dalam mengungkapkan segala apa yang terlintas dibenaknya, termasuk
mimpi-mimpi, berbagai fantasi, dan hal-hal konflik dalam dirinya tanpa
diagenda, dikomentari, ataupun banyak dipotong, apalagi disensor. Asosiasi
bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa
lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa
lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Asosiasi merupakan salah satu dari
peralatan dasar sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan, konflik, serta
motivasi yang tidak disadari. Dalam tehnik ini Freud menggunakan Hipnotis untuk
mendapatkan data-data dari klien mengenai hal-hal yang dia pikirkan dialam
bawah sadarnya, dengan tehnik ini klien dapat mengutarakan apapun yang dia
rasakan tanpa ada yang disembunyikan sehingga psikoterapis dapat menganalisis
masalah apa yang sebenarnya terjadi pada klien. Penerapan metode ini dilakukan
dengan posisi klien berbaring diatas dipan/sofa sementara terapis duduk
dibelakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat
asosiasinya mengalir dengan bebas. Dalam hal ini terapis fokus bertugas untuk
mendengarkan, mencatat, menganalisis bahan yang direpres,
memberitahu/membimbing pasien memperoleh insight (dinamika yang mendasari
perilaku yang tidak disadari).
-
Interpretasi
atau Penafsiran
Interpretasi
adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisis
mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi. Caranya adalah dengan
tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien
makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas,
resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah
membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan
hal-hal yang tersembunyi atau proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih
lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan
tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien. Analis harus benar-benar
menyadari mekanisme-mekanisme dan berbagai dorongan untuk mempertahankan
dirinya sebab kalau tidak dia akan jatuh ke dalam perangkap penafsiran terhadap
berbagai perasaan dan pikiran dinamik pasien menurut sederet pengalaman dan
masalah hidup analis sendiri. Penafsiran oleh analis harus memperhatikan waktu.
Dia harus dapat memilah atau memprediksi kapan waktu yang baik dan tepat untuk
membicarakan penafsirannya kepada pasien.
-
Analisis
Mimpi
Studi
Freud yang mendalam tentang mimpi melahirkan pandangan-pandangan kritisnya
tentang hal ini. Baginya mimpi merupakan perwujudan dari materi atau isi yang tidak
disadari, yang memasuki kesadaran lewat yang tersamar dan bersifat halusinasi
atas keinginan-keinginan yang terpaksa ditekan. Mimpi memiliki dua taraf, yaitu
isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan,
tersembunyi, simbolik, dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan
mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar
ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian
yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Bagian teori tentang mimpi yang
paling hakiki dan vital bagi Freud adalah adanya kaitan antara distorsi mimpi
dengan suatu konflik batiniah atau semacam ketidakjujuran batiniah. Oleh karena
itu Freud mencetuskan teknik analisis mimpi. Analisis mimpi merupakan prosedur
yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk
memperoleh pemahaman kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selama
tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres
akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi
merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut
hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan.
Pada teknik ini biasanya para psikoterapis memfokuskan mimpi-mimpi yang
bersifat berulang, menakutkan dan sudah pada taraf mengganggu. Tugas terapis
adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol
yang terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat
meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes
impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung.
-
Analisis
dan interpretasi resistensi
Resistensi
adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan
bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien
dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan
pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika
tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang
tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas
dorongan atau perasaan yang direpres tersebut. Analisis dan penafsiran
resistensi, ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang
ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya, terapis meminta klien
menafsirkan resistensi. Tujuannya adalah mencegah material-material mengancam
yang akan memasuki kesadaran klien, dengan cara mencegah klien mengungkapkan
hal-hal yang tidak disadarinya.
-
Analisis
dan interpretasi transferensi
Transferensi
adalah pengalihan sikap, perasaan dan khayalan pasien. Transferensi muncul
dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan
klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia
mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada
ibunya atau ayahnya ataupun siapapun. Transferensi berarti proses pemindahan
emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak oleh pasien
kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang
diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan
kasih sayang pengganti. Transferensi dinilai sebagai alat yang sangat berharga
bagi terapis untuk menyelidiki ketidaksadaran pasien karena alat ini mendorong
klien untuk menghidupkan kembali berbagai pengalaman emosional dari tahun-tahun
awal kehidupannya. Teknik analisis transferensi dilakukan agar klien mampu
mengembangkan tranferensinya guna mengungkap kecemasan-kecemasan yang dialami
pada masa lalunya (masa anak-anak), sehingga terapis punya kesempatan untuk
menginterpretasi tranferen. Dan pada teknik ini terapis menggunakan sifat-sifat
netral, objektif, anonim, dan pasif serta tidak memberikan saran. Transferensi
pada tahap yang paling kritis berefek abreaksi (pelepasan tegangan emosional)
pada pasien. Efek lain yang mungkin, ada dua, yaitu positif dan negatif.
Positif: saat pasien secara terbuka mentransferkan perasaan-perasaannya
sehingga menyebabkan kelekatan, ketergantungan, bahkan cinta kepada terapis.
Negatif: saat kebencian, ketidaksabaran, dan kadang-kadang perlawanan yang
keras terhadap terapis. Dan ini dapat berefek fatal terhadap proses terapi.
Referensi :
- D.Gunarsa, Prof.DR.Singgih. (1992). Konseling dan Psikoterapi. Gunung Mulia:
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar