Michelle
guerra nathanael
3pa06
14512569
Tugas
Psikoterapi
Universitas
Gunadarma
4. Logoterapi (Frankl) :
A.
KONSEP TERAPI :
Pandangan Frankl
tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu
saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur.
Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan
kemudian setelah menemukan mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap
kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus
dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang
dinamakan Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni kebebasan berkeinginan,
keinginan akan makna, dan makna hidup.
Kata “logo” berasal
dari bahasa Yunani “logos” yang berarti maknaatau meaning dan juga “rohani”. Adapun
kata “terapi” berasal dari bahasa Inggris therapy yang artinya penggunaan
teknik-teknik menyembuhkan dan mengurangi suatu penyakit. Jadi, kata logoterapi
artinya penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan
suatu penyakit melalui penemuan makna hidup. Istilah tema utama logoterapi adalah
karakteristik eksistensi manusia, dengan makna hidup sebagai inti teori.
Menurut Frankl yang paling dicari dan diinginkan manusia dalam hidupnya adalah makna,
yaitu makna yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang
maupun dalam penderitaan. Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning)
inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977).
Sebutan the will to
meaning sengaja dibedakan Frankl dengan sebutan the drive to meaning karena
makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to push, to drive) tetapi
seakan-akan menarik (to pull) dan menawari (to offer) manusia untuk memenuhi
kenyataan hidup, yang menurutnya pula tidaklah menyediakan keseimbangan tanpa
tegangan, tetapi justru menawarkan suatu tegangan khusus, yaitu tegangan
kenyataan diri pada waktu sekarang dan maknamakna yang harus dipenuhi : Bring
us Meaning. Di antara kedua hal itulah proses pengembangan pribadi berlangsung.
B.
UNSUR-UNSUR TERAPI :
- Munculnya Gangguan.
Logoterapi inibiasanya dilakukan untuk klien-klien
yang mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), karena biasanya orang
yang stres akibat trauma cenderung menyalahkan dirisendiri bahkan bisa ke
resiko mencederai diri dan orang lain.
-Tujuan Terapi.
Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
1. Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah
yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan
agama yang dianutnya.
2. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu
sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan.
3. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit
kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala,
dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih
bermakna.
- Peran Terapis.
Menurut
Semiun (2006) terdapat beberapa peranan dan kegiatan terapis dapat dikemukakan
secara singkat di bawah ini :
1. Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah.
Terapis pertama-tama
harus menciptakan hubungan antara klien dengan mencari keseimbangan antara dua
ekstrem, yakni hubungan yang akrab (seperti simpati) dan pemisahan secara
ilmiah (menangani klien sejauh ia melibatkan diri dalam teknik terapi).
2. Mengendalikan filsafat pribadi.
Maksudnya adalh terapis
tidak boleh memindahkan filsafat pribadi pada klien, karena logotherapy
digunakan untuk menangani masalah-masalah yang menyangkut nilai-nilai dan
masalah spiritual, seperti aspirasi terhadap hidup yang bermakna, makna cinta,
makna penderitaan, dan sebagainya.
3. Terapis bukan guru atau pengkhotbah.
Terapis adalah seorang
spesialis mata dalam pengertian bahwa ia memberi kemungkinan kepada klien untuk
melihat dunia sebagaimana adanya, dan bukan seorang pelukis yang menyajikan dunia
sebagaimana ia sendiri melihatnya.
4. Memberi makna lagi pada hidup.
Salah satu tujuan
logotherapy adalah menemukan tujuan dan maksud keberadaannya. Kepada klien
bahwa setiap kehidupan memiliki potensi-potensi yang unik dan tugas utamanya
adalah menemukan potensi-potensi itu. Pemenuhan tugas ini memberi makna pada
kepada hidupnya.
5. Memberi makna lagi pada penderitaan.
Di sini, terapis harus
menekan bahwa hidup manusia dapat dipenuhi tidak hanya dengan menciptakan
sesuatu atau memperoleh sesuatu, tetapi juga dengan menderita. Manusia akan
mengalami kebosanan dan apati jika ia tidak mengalami kesulitan atau
penderitaan.
6. Menekankan makna kerja.
Tugas terapis adalah
memperlihatkan makan pada pekerjaan itu sehingga nilai-nilai yang dimiliki oleh
orang-orang yang bekerja berubah. Tanggunga jawab terhadap hidup dipikul oleh
setiap orang dengan menjawab kepada situasi-situasi yang ada. Ini dilakukan
bukan dengan perkataan, melainkan dengan tindakan. Kesadaran akan tanggung
jawab timbul dari kesadaran akan tugas pribadi yang konkret dan unik.
7. Menekankan makna cinta.
Tugas terapis adalah
menuntut klien untuk mencintai dalam tingkat spiritual atau tidak mengacaukan
cinta seksual dengan cinta spiritual yang menghidupi pengalaman orang lain
dalam semua keunikan dan keistimewaannya.
C.
TEKNIK TERAPI LOGOTERAPI (FRANKL) :
1.
Persuasif.
Salah satu teknik yang
digunakan dalam logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk
mengambil sikap yang lebih konstruktif dalam menghadapi kesulitannya.Frankl,
menggambarkan hal ini dalam satu kasus tentang seorang perawat yang menderita
tumor yang tidak dapat dioperasi dan mengalami keputusasaan karena
ketidakmampuannya untuk bekerja dalam profesinya yang sangat terhormat.
2.
Paradoxical-intention.
Paradoxical intention
pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self-detachment) dan
kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri dan
lingkungan.Paradoxical intention terutama cocok untuk pengobatan jangka pendek
pasien fobia (ketakutan irrasional). Dengan teknik ini, konselor mengupayakan
agar klien yang mengalami fobia mengubah sikap dari ‘takut’ menjadi ‘akrab’
dengan objek fobianya. Selain itu, teknik paradoxical intention sangat
bermanfaat untuk menolong klien dengan obsesif kompulsif (tindakan yang
terus-menerus dilakukan walaupun sadar hal itu tidak rasional).Antisipasi yang
menakutkan terhadap suatu kejadian sering menyebabkan reaksi-reaksi yang
berkembang dari peristiwa tersebut, misalnya pasien dengan obsesi yang kuat cenderung
untuk menghindari obsesif-kompulsifnya. Dengan teknik paradoxical intention,
mereka diajak untuk ‘berhenti melawan’, tetapi bahkan mencoba untuk ‘bercanda’
tentang gejala yang ada pada mereka, ternyata hasilnya adalah gejala tersebut
akan berkurang dan menghilang. Klien diminta untuk berpikir atau membayangkan
hal-hal yang tidak menyenangkan, menakutkan, atau memalukan baginya. Dengan
cara ini klein mengembangkan kemampuan untuk melawan ketakutannya, seperti yang
terdapat juga dalam terapi perilaku (behaviour therapy).
3.
De-reflection.
Teknik logoterapi lain
adalah “de-reflection”, yaitu memanfaatkan kemampuan transendensi diri
(self-transcendence) yang dimiliki setiap manusia dewasa. Setiap manusia dewasa
memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi
yang tidak nyaman, tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada
hal-hal yang positif dan bermanfaat.Di sini klien pertama-tama dibantu untuk
menyadari kemampuan atau potensinya yang tidak digunakan atau terlupakan.Ini
merupakan suatu jenis daya penarik terhadap nilai-nilai pasien yang terpendam.
Sekali kemampuan tersebut dapat diungkapkan dalam proses konseling maka akan
muncul suatu perasaan unik, berguna dan berharga dari dalam diri klien.
De-reflection tampaknya sangat bermanfaat dalam konseling bagi klien
dengan pre-okupasi somatik, gangguan
tidur, dan beberapa gangguan seksual, seperti impotensi dan frigiditas.
Referensi :
- Semiun, Yustinus.2006. Kesehatan Mental 3.
Yogyakarta: Kanisius
- Abidin, Zainal. 2007. Analisis eksistensial. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar